friend
- Home >
- Tokoh Islam Indonesia >
- Kiai Hasan Basri Said
Posted by : Widian Rienanda Ali
Selasa, 18 Agustus 2015
Siapa Bilang Orang Pesantren Tak Bisa Mencipta Teknologi Tinggi
Ilmu
yang berorientasi pada gelar dan kelulusan tidak akan bisa dinikmati sebagai
ilmu itu sendiri karena pastinya tidak akan ada inovasi; tidak ada penemuan
baru. Lihat bagaimana orang sekolahan hanya berputar-putar pada pakem dan target
materi yang sudah baku. Lalu lihat bagaimana para sarjana yang hanya bersibuk
dengan urusan teknis: bagaimana ilmunya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan
penghidupan, mencari dan memperbanyak uang. Bukankan seharusnya sebuah ilmu itu
mandiri dan tidak goyak oleh apapun jua, apalagi sekedar uang. Biarkan ilmu itu
terus berkembang untuk mencapai suatu peradaban yang setinggi-tingginya.
Dengan
bangga Kiai Hasan Basri menunjukkan satu alat teropong bintang yang
diciptakannya sendiri, yang mampu mengukur dan mengamati gerak gerik benda
langit, juga untuk mengukur arah kiblat. Alat itu terbuat dari rangkaian pipa,
termasuk pipa pengintip, dilengkapi dengan penggaris bulat, kompas, benang dan
bandulan kecil.
Jika
anda melihat dan coba memakai alat itu pasti kesan bahwa orang Indonesia,
lebih-lebih orang pesantren, banya bisa memakai dan mengkonsumsi teknologi yang
diciptakan oleh Barat itu akan hilang seketika. Sebenarnya kita bisa mencapai
peradaban teknologi tinggi seperti Barat namun kita atau pemerintah kita enggan
mencobanya. Kita hanya senang mengkonsumsi. Bisa dibayangkan, seharusnya kita
tidak butuh waktu lama untuk merubah alat sederhana buatan Kiai hasan Basri
menjadi alat modern yang terbuat dari bahan yang lebih awet. Namun proses
panjang sebuah keilmuan –dalam hal ini—ilmu falak sehingga mampu menciptakan
teropong bintang itu ternyata sudah terlampaui oleh orang-orang pesantren,
paling tidak oleh Kiai Hasan Basri.
Maka,
hal terpenting ketika seorang mengaku telah ”belajar”, kata Kiai Hasan Basri,
adalah bagaimana berperan dalam masyarakat melalui ilmu yang didapat. Ini yang
seharusnya dibanggakan. Jadi orang kemudian tidak sekedar mentereng hanya
gara-gara bergelar tinggi tapi bagaimana ”hasil belajarnya” dapat berefek kepada
dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.
Apa
boleh buat. Saat ini orang belajar hanya untuk mencari gelar. Ilmu itu sendiri
tidak berarti apa-apa. Lebih-lebih disiplin keilmuan yang dikejar-kejar oleh
orang-orang sekolahan hanyalah yang dibutuhkan untuk kepentingan mencari
pekerjaan, bukan ilmu yang penting dikembangkan untuk mencapai peradaban tinggi.
Ilmu falak atau ilmu astronomi misalnya tidak akan banyak peminat karena tidak
menjanjikan pekerjaan yang mentereng, posisi terhormat, atau uang banyak.
Kiai
Hasan Basri Said lahir pada 1935 di sebuah kota kecil di daerah Gresik, Jawa
Timur. Sejak kecil ia belajar di satu madrasah di daerahnya. Lalu setelah merasa
cukup usia ia beranjak ke pesantren Gontor Ponorogo. Di sana dia berdiam selama
6 tahun. Hasan Basri Muda pernah tiga kali menempuh pendidikan tinggi namun
tidak pernah lebih dari satu semester. Ia pernah belajar di UII Yogyakarta, lalu
ke Kedokteran UNAIR 1 semester, dan lalu ke kedokteran hewan Universitas
Brawijaya Malang 1 semester. ”Saya nggeri kalau harus praktek dengan membedah
babi,” katanya. Baginya belajar di kampus memang tidak perlu menyita waktu
terlalu lama. Setelah merasa cukup mengenyam dunia kampus, ia merantau ke pulau
Kalimantan.
Kiai
Hasan Basri pernah menjadi sukarelawan di satu klinik yang didirikan organisasi
Islam Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Gresik. Klinik itu ada mula-mula sebelum
kemudian organisasi Islam Muhammadiyah dan yang lainnya juga mendidikan layanan
kesehatan di sana. Lalu ia pindah menggeluti dunia koperasi hingga kini. Gaji
yang diterimanya dari kantor koperasi lumayan untuk membiayai tiga orang anaknya
yang sukarang sudah beranjak besar. Namun di tengah aktivitas apapun, satu yang
tidak pernah dia lupakan adalah bahwa dia seorang pecinta ilmu falak.
Dia
belajar ilmu falak sejak kecil. Ia pernah belajar kepada Kiai Romli Hasan,
seorang pakar ilmu falak di daerah Gresik. Lalu ke daerah Bangil menemui Kiai
Mu’thi dan belajar ilmu falak kepadanya. Namun setelah beranjak dewasa semangat
untuk menggeluti ilmu falak itu entah kenapa mengendur. Semangat untuk mendalami
ilmu falak itu kembali menggebu-gebu pada usianya yang ke-33 tahun, setelah
mendapat dorongan dari istri tercinta Marsyadul Ilmi yang 15 tahun lebih muda
darinya.
Waktu
itu warga daerah setempat membutuhkan seseorang yang bisa mengukur arah kiblat.
Kiai Hasan Basri seakan tidak mau tahu. Istrinya yang tahu kemampuan suaminya
langsung bergumam, ” Ilmu dari Tuhan, kalau Bapak tidak manfaatkan maka bapak
berdosa.” Dorongan
istrinya inilah yang membuatnya bersemangat untuk terus menggeluti ilmu falak.
Dia tidak ingin menyembunyikan ilmu Tuhan. Lagi pula, istrinya selalu memberikan
dukungan agar Kiai Hasan Basri terus mengabdikan dirinya pada ilmu falak. ”Dia
rela saya tinggal satu minggu, karena tahu bukan untuk pribadi saya,” kata Kiai
Hasan Basri. Patokannya, katanya, ilmu itu tidak untuk dijual, jadi bisa
dinikmati dan terus digeluti. (A Khoirul
Anam)
Ads
Mengenai Saya
Arsip Blog
-
▼
2015
(77)
-
▼
Agustus
(10)
- Download Habib Syekh mp3
- Doktrin Aswaja di Bidang Sosial-Politik
- Kiai Hasan Basri Said
- KH SALEH LATENG BANYUWANGI
- Frostwire ayo download dengan kecepatan penuh!!!
- 73 Golongan Umat Islam
- Logat Inggris Australia Pudar !!!!!!!!
- Penjelasan Sahabat Umar Tentang Bid'ah yang Baik
- BAHTSUL MASA’IL: Hukum “Pedekate” dengan Facebook ...
- cara menggunakan 3D analyzer
-
▼
Agustus
(10)
Label
Translate
Ads
Popular posts
-
Assalamualaikum wr. wb. Memang masa SMP adalah masa perubahan fase kanak-kanak menuju dewasa (remaja). Mungkin sebagian o...
-
Menurut pandangan Islam, pada hakikatnya kekuasaan adalah amanat Allah SWT yang diberikan kepada seluruh manusia. Kemudian kekuasaan it...
-
1. Melacak alamat IP suatu situs 2. Melacak Real Adress server suatu situs 3. Cara Mengetahui IP address lawan chatting kita (::...
-
Selalu Konsisten dengan Madzhab Syafi'i Perkembangan agama Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kiprah para tokoh agama d...
-
Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan Pada zaman-zaman perjuangan merebut kemerdekaan, banyak sekali ko...
-
untuk mendownload klik MB-MBnya JUDUL LAGU MP3 Ahlan Wa Sahlan - Rohim 13.2 MB Ahmad Ya Habibi - Ali 10.4 MB Ajib Ajib Jos 4.8 M...
-
Bahtsul Masail Diniyyah Qanuniyyah (pembahasan masalah keagamaan khusus berkaitan dengan persoalan hukum dan kebijakan negara), yang me...
-
Ada’, Qadha' dan I’adah dalam Shalat Sebagaimana firman Allah bahwa shalat bagi orang mukmin adalah kewajiban yang waktunya sudah ...
-
Tokoh Revolusioner Abad 20 Jakarta.Nu.Online .Gelar sebagai bapak perfilman nasional bagi Usmar Ismail bukanlah yang di terapkan begitu...
-
Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwa...
Menu
Advertisement With Us
Popular Posts
-
Assalamualaikum wr. wb. Memang masa SMP adalah masa perubahan fase kanak-kanak menuju dewasa (remaja). Mungkin sebagian o...
-
Menurut pandangan Islam, pada hakikatnya kekuasaan adalah amanat Allah SWT yang diberikan kepada seluruh manusia. Kemudian kekuasaan it...
-
1. Melacak alamat IP suatu situs 2. Melacak Real Adress server suatu situs 3. Cara Mengetahui IP address lawan chatting kita (::...
-
Selalu Konsisten dengan Madzhab Syafi'i Perkembangan agama Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kiprah para tokoh agama d...
-
Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan Pada zaman-zaman perjuangan merebut kemerdekaan, banyak sekali ko...
-
untuk mendownload klik MB-MBnya JUDUL LAGU MP3 Ahlan Wa Sahlan - Rohim 13.2 MB Ahmad Ya Habibi - Ali 10.4 MB Ajib Ajib Jos 4.8 M...
-
Bahtsul Masail Diniyyah Qanuniyyah (pembahasan masalah keagamaan khusus berkaitan dengan persoalan hukum dan kebijakan negara), yang me...
-
Ada’, Qadha' dan I’adah dalam Shalat Sebagaimana firman Allah bahwa shalat bagi orang mukmin adalah kewajiban yang waktunya sudah ...
-
Tokoh Revolusioner Abad 20 Jakarta.Nu.Online .Gelar sebagai bapak perfilman nasional bagi Usmar Ismail bukanlah yang di terapkan begitu...
-
Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwa...
